haii! kali ini Fay ngga bahas soal nerbitin puisi dulu. lagi bumpet ga ada inspirasi :v karna minggu-minggu ini lagi banyak sedihnya daripada mikirin ide puisinya *ea:v mau curhat aja deh 😂 udah kenal kan ya samaa Fay? masa udah baca puisi-puisi yang udah Fay terbitin tapi gak kenal siapa Fay? yang gak kenal kenalan dulu yuk *bhaks 😆 namaku Fybie Maharani Putri Yohana Gabriel. panjang bangettt yak-, kalo susah panggil Fybie panggil Fay saja gampang kann?
okey, Fay mau curhat nih. eh tapi, mau nanya dulu..
pernah ga kalian punya temen yang udah kelet banget setelah sekian lama, tapi diakhir mereka lupa sama kita. banyak emang ya persoalan remaja yang kaya gitu. bukan sekedar curhatan masa remaja aja, tapi emang sakit dirasain karna ini kenyataan. apalagi saat kita mau pisah kaya gini. kita mungkin pernah punya salah sama mereka, tapi itu kecil. sedangkan mereka mungkin menganggapnya lebih dari biasa. kita juga udah berusaha memperbaiki kesalahan itu biar 'temen' kita itu bisa ngerti. pasti diantara kita juga pengen gabung lagi. *aduh gakkuat Fay😔
diantara kita pasti memiliki sifat/sikap yang berbeda-beda dan kita mencoba menerima semua itu. walaupun terkadang ada yang bersikap kekanak-kanakkan dan cenderung egois. tapi dengan adanya semua pengalaman yang kita peroleh dari masalah-masalah itu kita dapat belajar bahwa,
"berjuta-juta kebaikan akan terlupakan dengan hanya satu kesalahan kecil."
terus yaa, banyak temen jaman sekarang yang ngakunya sih benci sama si 'dia' tapi nyatannya apa cuy? mereka malah main bareng sama mereka. sambil gandengan tangan pula. seolah-olah kaya ga ada masalah. padahal sebelumnya lagi tengkar dengan hebatnya. jago ya balikin muka. mukanya ada berapa sih? berlapis-lapis ya?
"Balikin muka segampang balikin telapak tangan gitu aja ya?"
masa remaja masa-masa labil. yang dilukiskan dan gampang dihapus lagi. emang bener kita bisa dapet banyak pelajaran yang bisa diambil masa-masa ini. tapi, dengan adanya masa-masa ini juga kita bisa kuat nantinya. 😉
Kamis, 16 Maret 2017
Jumat, 10 Februari 2017
Puisi : Dirimu Ku Tunggu (Dari Bayangan Sinar Mentari)
Dirimu Ku Tunggu
(Dari Bayangan Sinar
Mentari)
by: Fybie Maharani Putri
Tak terlupa hari itu,
Tepat lima bulan lalu
Ditanggal yang sama dengan
hari ini,
Awal dari kisah itu dimulai
Berawal dari satu tatapan
Yang mempesona,
Disaat mata kita bertemu
Hanya mampu tersenyum simpul
dengan satu kedipan mata
dengan tidak sengaja pula,
ku terus curi pandang ke
arahmu
dengan waspada, agar tak ada
yang curiga
setelah kupandang mata itu,
detak jantung ini tak biasa
setelah sekian waktu
benarkah, kali ini akan
dimulai lagi
kisah asmaraku?
Terhitung lima bulan dari
waktu itu
Telah kita lalui, seringkali
diiringi oleh candamu
Dan sesekali juga saling memendam
rasa
Hanya belum tepat, untuk
ungkapkan
Rasanya telah sejauh ini
Kita lewati, tapi terkadang
Tatapan lima bulan lalu itu
Masih saja terlintas di
pikiranku
Saat ku tutup mataku,
Ku lihatmu didepan mataku
Saat ku buka mataku,
Ku merindukanmu
Ada malam yang ditemani oleh
Tawa yang tertahan di dalam
hati
Agar tak memecah heningnya
malam,
Ada pula malam yang ditemani
oleh tangisan
Yang mampu membasahi seluruh
wajah
Bahkan membuat sesak di dada
Walau terkadang dirimu
Mampu buatku kecewa,
Tapi ku percaya semua telah
diatur oleh-Nya
Karna kecewaku hanya
sementara
Tapi cinta redakan lara
Doaku, semoga kita dijadikan
indah oleh-Nya
Dan dipersatukan oleh semesta
Juga diterima oleh dunia
Walau hubungan ini
Sulit diterka, akan kemana
membawa kita
Semoga saja segala rencana
Berjalan apa adanya
Walau tak mudah untuk
bertahan
Aku menolak kalah oleh
keadaan,
Walau tiada yang yakin
Ku mampu berdiri disini
Menunggumu datang dari bayang
sinar mentari
Puisi : Ikatan Tanpa Batas Waktu
Ikatan Tanpa Batas Waktu
by : Fybie Maharani Putri
Seperti matahari pagi
Yang terbit memancarkan sinar
kemilaunya
Seperti itu kasih seorang ibu
Tiap hari kepada keluarganya
Seperti udara yang selalu ada
Itulah wujud nasehatnya
kepada sang anak
Yang selalu mendampingi tiap
langkah sang anak
Tak terlihat, tapi kita dapat
rasakan
Segala manfaat dan hasilnya
Seperti aliran air
Perlindungan seorang ayah
kepada keluarganya
Setiap saat dan tanpa batasan
waktu
Seperti pohon yang berbuah
setelah sekian lama
Seperti itu seorang ayah,
Mampu membentuk mental
Kepada anaknya
Seperti sebuah pelita
ditengah gulita
Seorang anak bagi keluarganya
Seperti menambahkan krim
di atas sebuah kue tak berasa
seorang anak menambahkan
cinta
menambahkan sebuah rasa,
menambahkan sebuah warna
juga melengkapi suatu ikatan
Seperti bakau di pinggiran
pantai,
Keluarga yang saling
mempertahankan
Kelurga yang saling percaya
dan menyayangi
Semoga seperti pohon kurma
ditengah gurun
Yang mampu bertahan
bertahun-tahun
Lamanya, ditengah kekeringan
Dan jauh sumber air
Semoga seperti itu pula
keluarga
Yang mampu saling menjaga
Dan membantu dalam kesusahan,
Juga selalu ada di suka duka
bersama
Saling melengkapi dan
bahu-membahu
Karena cinta yang terkuat
adalah cinta keluarga
Yang mampu meluluhkan hati
yang beku
Puisi : Takdir Jauh
Takdir Jauh
by : Fybie Maharani Putri
Apa lagi kali ini,
Apa yang kau lakukan saat
ini?
Kau ingin mulai pergi lagi
Jauh, pergi dan menghilang
Tanpa tinggalkan kejelasan
juga kabar
Sesekali ku temukan kau,
Yang bersembunyi dibalik
rencanamu itu
Kau yang memiliki beribu
alasan
Untuk mulai menjauh dan
pergi,
Karna kau tidak berpikir jauh
ke depan,
Sebelum kau mengambil pilihan
Bagaimana nanti,
Jika kita tak sengaja
Kembali berhadapan?
Akankah Yang Kuasa
Memiliki rencana-Nya sendiri
Yang kita sebut takdir?
Dan akankah waktu itu,
Yang Kuasa memisahkan kita
lagi?
Atau justru memberi waktu
baru
untuk kita bersama hargai
dalam ketulusan
Kamis, 08 Desember 2016
Puisi : Rasa Ini, Telah Lewat Masanya
Rasa Ini, Telah Lewat Masanya
by : Fybie Maharani Putri
Menyakitkan saat aku
menatapmu,
Dan disaat yang bersamaan
Kau menatap Dia,
yang kau sebut-sebut dalam
cerita keseharianmu
Dia yang kau sebut-sebut
kesukaanmu
Dia yang kau suka, yang kau
damba
Bahkan ditiap hari yang
terucap namanya,
Dia yang selalu kau harap kan
mengerti perasaanmu
Dia yang kau gambarkan dalam
tiap-tiap sajakmu
Sedang aku disini hanya mampu
menemanimu
Dalam keseharianmu,
Yang rentan tergores hatinya
Oleh tuturmu yang selalu
sebut dia dalam kisahmu
Sulitkah, mengerti akan
rasaku ?
Tak nampakkah sikapku
terhadapmu,
Yang sudah jelas sangat
berbeda ?
Tak inginkah, sekedar membuka
sebuah kisah baru
Mencoba menengok yang tak
hanya sekedar lalu buatku ?
Tak pernah terkenangkah
rentetan memori kita bersama ?
Mungkin kelak,
saat tak lagi kita bersama
Saatku lelah dengan semua
perjuangan,
Saatku ingin menjauh
Dari semua tentangmu dan
ceritamu tentangnya
Melupamu, mengikhlaskan
segala pengorbananku
Yang t’lah sia-sia adanya
Mungkin disaat itulah,
kau sadar sesuatu t’lah
menghilang darimu
kau mencoba mencari,
kau coba mengingat, tapi tak
pernah kau temui apa yang hilang darimu
karna, kau tak pernah simpan
tentangku
karna kau tak pernah pikirkan
perasaanku
tak pernah kau tanyakan apa
yang aku rasa,
kau hanya merepotkan
tentangnya
dan apa yang ingin kau
ceritakan tentangnya
hingga tak pernah memikirkan
perasaanku
sedari dulu, aku berada
disini
tetap ada disetiap waktu
untukmu
tapi kau selalu memandangnya,
tak pernah menengok kepadaku
Aku memang tak sepandai dia,
Tak cantik permainannya
kepada lawan jenis
Untuk memikat hatinya,
Tapi disini aku dapat
terimamu seperti adanya dirimu sekarang,
Bahkan sampai lelah
kutunggumu,
Yang tak kunjung sadar
Aku lelah, aku berhak juga
untuk mencinta
Tapi kau pilih pertahankan
tuk mengejarnya
Yang tak pedulikanmu,
Aku pergi dan menghapuskan
rasaku ini...
Disaat itu, kau menyadari
rasaku terhadapmu
Tapi itu sudah lewat masanya,
Tak perlu kau ungkit masa
menunggu yang membelenggu
Tak usah kau jelaskan yang
baru saja kau sadari
Karna ‘ku telah lebih dulu
mengerti...
Terkadang, cinta disadari
sesaat setelah seorang itu tlah menyadari
Menyadari kesalahannya, karna
terlambat memahami
Perasaan ini hanya jadi
dongeng tak berujung
Karna penyesalanlah bagian
akhirnya
Cukup untuk kisahnya, cukup
untuk tangisnya semoga dicukupkan hatinya
Rabu, 16 November 2016
Puisi : Iringan Hujan Dalam Raung Melodi
Iringan Hujan Dalam Raung Melodi
by : Fybie Maharani P
Nada-nada
tetesan air hujan
Terdengar
dari depan jendela kamar,
Dan
menghatarkan melodinya
Ke setiap
penjuru ruangan
Membentuk
sebuah harmoni berirama
Menyihir
pendengarnya menjadi sesak
Memaksa
pikiran ‘tuk kembali mengingat kenangan
Genangannya
terasa berserakan
Menahan
rindu yang tak terungkapkan
Hujan tak
pernah tau
Kemana ia
akan menimpa
Tapi air
mata ini tau benar
Karena dan
untuk siapa ia jatuh
Cerdiknya,
hujan mampu
Beri kabar
saat akan menimpa,
Dengan memberi
kabar lewat awan hitam
Yang
menutupi langit
Bagaimana
denganmu,
Sang pemuda
lalu yang menyematkan rindu ?
Adakah kabar
yang kau beri untukku ?
Seperti hujan
yang hanya menumpang,
Untuk menciptakan
udara yang segar
Lalu cepat pergi
berlalu,
Aku tak pernah
menyesal
Kita bisa saling
mengenal
Namun aku hanya
menyesal,
Mengapa terlalu
awal
Untuk kita
mengenal
Kata selamat
tinggal ?
Langganan:
Komentar (Atom)