Puisi

Kamis, 16 Maret 2017

About Friendship 'Bullshit yups'

haii! kali ini Fay ngga bahas soal nerbitin puisi dulu. lagi bumpet ga ada inspirasi :v karna minggu-minggu ini lagi banyak sedihnya daripada mikirin ide puisinya *ea:v mau curhat aja deh 😂 udah kenal kan ya samaa Fay? masa udah baca puisi-puisi yang udah Fay terbitin tapi gak kenal siapa Fay? yang gak kenal kenalan dulu yuk *bhaks 😆 namaku Fybie Maharani Putri Yohana Gabriel. panjang bangettt yak-, kalo susah panggil Fybie panggil Fay saja gampang kann? 

okey, Fay mau curhat nih. eh tapi, mau nanya dulu.. 
pernah ga kalian punya temen yang udah kelet banget setelah sekian lama, tapi diakhir mereka lupa sama kita. banyak emang ya persoalan remaja yang kaya gitu. bukan sekedar curhatan masa remaja aja, tapi emang sakit dirasain karna ini kenyataan. apalagi saat kita mau pisah kaya gini. kita mungkin pernah punya salah sama mereka, tapi itu kecil. sedangkan mereka mungkin menganggapnya lebih dari biasa. kita juga udah berusaha memperbaiki kesalahan itu biar 'temen' kita itu bisa ngerti. pasti diantara kita juga pengen gabung lagi. *aduh gakkuat Fay😔
diantara kita pasti memiliki sifat/sikap yang berbeda-beda dan kita mencoba menerima semua itu. walaupun terkadang ada yang bersikap kekanak-kanakkan dan cenderung egois. tapi dengan adanya semua pengalaman yang kita peroleh dari masalah-masalah itu kita dapat belajar bahwa,

"berjuta-juta kebaikan akan terlupakan dengan hanya satu kesalahan kecil."

terus yaa, banyak temen jaman sekarang yang ngakunya sih benci sama si 'dia' tapi nyatannya apa cuy? mereka malah main bareng sama mereka. sambil gandengan tangan pula. seolah-olah kaya ga ada masalah. padahal sebelumnya lagi tengkar dengan hebatnya. jago ya balikin muka. mukanya ada berapa sih? berlapis-lapis ya?

"Balikin muka segampang balikin telapak tangan gitu aja ya?"

masa remaja masa-masa labil. yang dilukiskan dan gampang dihapus lagi. emang bener kita bisa dapet banyak pelajaran yang bisa diambil masa-masa ini. tapi, dengan adanya masa-masa ini juga kita bisa kuat nantinya. 😉

Jumat, 10 Februari 2017

Puisi : Dirimu Ku Tunggu (Dari Bayangan Sinar Mentari)



Dirimu Ku Tunggu
(Dari Bayangan Sinar Mentari)
by: Fybie Maharani Putri

Tak terlupa hari itu,
Tepat lima bulan lalu
Ditanggal yang sama dengan hari ini,
Awal dari kisah itu dimulai

Berawal dari satu tatapan
Yang mempesona,
Disaat mata kita bertemu
Hanya mampu tersenyum simpul
dengan satu kedipan mata
dengan tidak sengaja pula,
ku terus curi pandang ke arahmu
dengan waspada, agar tak ada yang curiga
setelah kupandang mata itu,
detak jantung ini tak biasa
setelah sekian waktu
benarkah, kali ini akan dimulai lagi
kisah asmaraku?

Terhitung lima bulan dari waktu itu
Telah kita lalui, seringkali diiringi oleh candamu
Dan sesekali juga saling memendam rasa
Hanya belum tepat, untuk ungkapkan
Rasanya telah sejauh ini
Kita lewati, tapi terkadang
Tatapan lima bulan lalu itu
Masih saja terlintas di pikiranku
Saat ku tutup mataku,
Ku lihatmu didepan mataku
Saat ku buka mataku,
Ku merindukanmu
Ada malam yang ditemani oleh
Tawa yang tertahan di dalam hati
Agar tak memecah heningnya malam,
Ada pula malam yang ditemani oleh tangisan
Yang mampu membasahi seluruh wajah
Bahkan membuat sesak di dada

Walau terkadang dirimu
Mampu buatku kecewa,
Tapi ku percaya semua telah diatur oleh-Nya
Karna kecewaku hanya sementara
Tapi cinta redakan lara
Doaku, semoga kita dijadikan indah oleh-Nya
Dan dipersatukan oleh semesta
Juga diterima oleh dunia

Walau hubungan ini
Sulit diterka, akan kemana membawa kita
Semoga saja segala rencana
Berjalan apa adanya
Walau tak mudah untuk bertahan
Aku menolak kalah oleh keadaan,
Walau tiada yang yakin
Ku mampu berdiri disini
Menunggumu datang dari bayang sinar mentari

Puisi : Ikatan Tanpa Batas Waktu



Ikatan Tanpa Batas Waktu
by : Fybie Maharani Putri

Seperti matahari pagi
Yang terbit memancarkan sinar kemilaunya
Seperti itu kasih seorang ibu
Tiap hari kepada keluarganya
Seperti udara yang selalu ada
Itulah wujud nasehatnya kepada sang anak
Yang selalu mendampingi tiap langkah sang anak
Tak terlihat, tapi kita dapat rasakan
Segala manfaat dan hasilnya

Seperti aliran air
Perlindungan seorang ayah kepada keluarganya
Setiap saat dan tanpa batasan waktu
Seperti pohon yang berbuah setelah sekian lama
Seperti itu seorang ayah,
Mampu membentuk mental
Kepada anaknya

Seperti sebuah pelita ditengah gulita
Seorang anak bagi keluarganya
Seperti menambahkan krim
di atas sebuah kue tak berasa
seorang anak menambahkan cinta
menambahkan sebuah rasa,
menambahkan sebuah warna
juga melengkapi suatu ikatan
Seperti bakau di pinggiran pantai,
Keluarga yang saling mempertahankan
Kelurga yang saling percaya dan menyayangi

Semoga seperti pohon kurma ditengah gurun
Yang mampu bertahan bertahun-tahun
Lamanya, ditengah kekeringan
Dan jauh sumber air
Semoga seperti itu pula keluarga
Yang mampu saling menjaga
Dan membantu dalam kesusahan,
Juga selalu ada di suka duka bersama
Saling melengkapi dan bahu-membahu
Karena cinta yang terkuat adalah cinta keluarga
Yang mampu meluluhkan hati yang beku

Puisi : Takdir Jauh



Takdir Jauh
by : Fybie Maharani Putri

Apa lagi kali ini,
Apa yang kau lakukan saat ini?
Kau ingin mulai pergi lagi
Jauh, pergi dan menghilang
Tanpa tinggalkan kejelasan juga kabar
Sesekali ku temukan kau,
Yang bersembunyi dibalik rencanamu itu

Kau yang memiliki beribu alasan
Untuk mulai menjauh dan pergi,
Karna kau tidak berpikir jauh ke depan,
Sebelum kau mengambil pilihan

Bagaimana nanti,
Jika kita tak sengaja
Kembali berhadapan?
Akankah Yang Kuasa
Memiliki rencana-Nya sendiri
Yang kita sebut takdir?
Dan akankah waktu itu,
Yang Kuasa memisahkan kita lagi?
Atau justru memberi waktu baru
untuk kita bersama hargai
dalam ketulusan

Kamis, 08 Desember 2016

Puisi : Rasa Ini, Telah Lewat Masanya

Rasa Ini, Telah Lewat Masanya
by : Fybie Maharani Putri

Menyakitkan saat aku menatapmu,
Dan disaat yang bersamaan
Kau menatap Dia,
yang kau sebut-sebut dalam cerita keseharianmu
Dia yang kau sebut-sebut kesukaanmu
Dia yang kau suka, yang kau damba
Bahkan ditiap hari yang terucap namanya,
Dia yang selalu kau harap kan mengerti perasaanmu
Dia yang kau gambarkan dalam tiap-tiap sajakmu
Sedang aku disini hanya mampu menemanimu
Dalam keseharianmu,
Yang rentan tergores hatinya
Oleh tuturmu yang selalu sebut dia dalam kisahmu
Sulitkah, mengerti akan rasaku ?
Tak nampakkah sikapku terhadapmu,
Yang sudah jelas sangat berbeda ?
Tak inginkah, sekedar membuka sebuah kisah baru
Mencoba menengok yang tak hanya sekedar lalu buatku ?
Tak pernah terkenangkah rentetan memori kita bersama ?
Mungkin kelak,
saat tak lagi kita bersama
Saatku lelah dengan semua perjuangan,
Saatku ingin menjauh
Dari semua tentangmu dan ceritamu tentangnya
Melupamu, mengikhlaskan segala pengorbananku
Yang t’lah sia-sia adanya
Mungkin disaat itulah,
kau sadar sesuatu t’lah menghilang darimu
kau mencoba mencari,
kau coba mengingat, tapi tak pernah kau temui apa yang hilang darimu
karna, kau tak pernah simpan tentangku
karna kau tak pernah pikirkan perasaanku
tak pernah kau tanyakan apa yang aku rasa,
kau hanya merepotkan tentangnya
dan apa yang ingin kau ceritakan tentangnya
hingga tak pernah memikirkan perasaanku
sedari dulu, aku berada disini
tetap ada disetiap waktu untukmu
tapi kau selalu memandangnya, tak pernah menengok kepadaku
Aku memang tak sepandai dia,
Tak cantik permainannya kepada lawan jenis
Untuk memikat hatinya,
Tapi disini aku dapat terimamu seperti adanya dirimu sekarang,
Bahkan sampai lelah kutunggumu,
Yang tak kunjung sadar
Aku lelah, aku berhak juga untuk mencinta
Tapi kau pilih pertahankan tuk mengejarnya
Yang tak pedulikanmu,
Aku pergi dan menghapuskan rasaku ini...

Disaat itu, kau menyadari rasaku terhadapmu
Tapi itu sudah lewat masanya,
Tak perlu kau ungkit masa menunggu yang membelenggu
Tak usah kau jelaskan yang baru saja kau sadari
Karna ‘ku telah lebih dulu mengerti...
Terkadang, cinta disadari sesaat setelah seorang itu tlah menyadari
Menyadari kesalahannya, karna terlambat memahami
Perasaan ini hanya jadi dongeng tak berujung
Karna penyesalanlah bagian akhirnya

Cukup untuk kisahnya, cukup untuk tangisnya semoga dicukupkan hatinya

Rabu, 16 November 2016

Puisi : Iringan Hujan Dalam Raung Melodi

Iringan Hujan Dalam Raung Melodi
by : Fybie Maharani P

Nada-nada tetesan air hujan
Terdengar dari depan jendela kamar,
Dan menghatarkan melodinya
Ke setiap penjuru ruangan

Membentuk sebuah harmoni berirama
Menyihir pendengarnya menjadi sesak
Memaksa pikiran ‘tuk kembali mengingat kenangan
Genangannya terasa berserakan
Menahan rindu yang tak terungkapkan

Hujan tak pernah tau
Kemana ia akan menimpa
Tapi air mata ini tau benar
Karena dan untuk siapa ia jatuh

Cerdiknya, hujan mampu
Beri kabar saat akan menimpa,
Dengan memberi kabar lewat awan hitam
Yang menutupi langit
Bagaimana denganmu,
Sang pemuda lalu  yang menyematkan rindu ?
Adakah kabar yang kau beri untukku ?

Seperti hujan yang hanya menumpang,
Untuk menciptakan udara yang segar
Lalu cepat pergi berlalu,
Aku tak pernah menyesal
Kita bisa saling mengenal
Namun aku hanya menyesal,
Mengapa terlalu awal
Untuk kita mengenal

Kata selamat tinggal ?