Puisi

Jumat, 10 Februari 2017

Puisi : Dirimu Ku Tunggu (Dari Bayangan Sinar Mentari)



Dirimu Ku Tunggu
(Dari Bayangan Sinar Mentari)
by: Fybie Maharani Putri

Tak terlupa hari itu,
Tepat lima bulan lalu
Ditanggal yang sama dengan hari ini,
Awal dari kisah itu dimulai

Berawal dari satu tatapan
Yang mempesona,
Disaat mata kita bertemu
Hanya mampu tersenyum simpul
dengan satu kedipan mata
dengan tidak sengaja pula,
ku terus curi pandang ke arahmu
dengan waspada, agar tak ada yang curiga
setelah kupandang mata itu,
detak jantung ini tak biasa
setelah sekian waktu
benarkah, kali ini akan dimulai lagi
kisah asmaraku?

Terhitung lima bulan dari waktu itu
Telah kita lalui, seringkali diiringi oleh candamu
Dan sesekali juga saling memendam rasa
Hanya belum tepat, untuk ungkapkan
Rasanya telah sejauh ini
Kita lewati, tapi terkadang
Tatapan lima bulan lalu itu
Masih saja terlintas di pikiranku
Saat ku tutup mataku,
Ku lihatmu didepan mataku
Saat ku buka mataku,
Ku merindukanmu
Ada malam yang ditemani oleh
Tawa yang tertahan di dalam hati
Agar tak memecah heningnya malam,
Ada pula malam yang ditemani oleh tangisan
Yang mampu membasahi seluruh wajah
Bahkan membuat sesak di dada

Walau terkadang dirimu
Mampu buatku kecewa,
Tapi ku percaya semua telah diatur oleh-Nya
Karna kecewaku hanya sementara
Tapi cinta redakan lara
Doaku, semoga kita dijadikan indah oleh-Nya
Dan dipersatukan oleh semesta
Juga diterima oleh dunia

Walau hubungan ini
Sulit diterka, akan kemana membawa kita
Semoga saja segala rencana
Berjalan apa adanya
Walau tak mudah untuk bertahan
Aku menolak kalah oleh keadaan,
Walau tiada yang yakin
Ku mampu berdiri disini
Menunggumu datang dari bayang sinar mentari

Puisi : Ikatan Tanpa Batas Waktu



Ikatan Tanpa Batas Waktu
by : Fybie Maharani Putri

Seperti matahari pagi
Yang terbit memancarkan sinar kemilaunya
Seperti itu kasih seorang ibu
Tiap hari kepada keluarganya
Seperti udara yang selalu ada
Itulah wujud nasehatnya kepada sang anak
Yang selalu mendampingi tiap langkah sang anak
Tak terlihat, tapi kita dapat rasakan
Segala manfaat dan hasilnya

Seperti aliran air
Perlindungan seorang ayah kepada keluarganya
Setiap saat dan tanpa batasan waktu
Seperti pohon yang berbuah setelah sekian lama
Seperti itu seorang ayah,
Mampu membentuk mental
Kepada anaknya

Seperti sebuah pelita ditengah gulita
Seorang anak bagi keluarganya
Seperti menambahkan krim
di atas sebuah kue tak berasa
seorang anak menambahkan cinta
menambahkan sebuah rasa,
menambahkan sebuah warna
juga melengkapi suatu ikatan
Seperti bakau di pinggiran pantai,
Keluarga yang saling mempertahankan
Kelurga yang saling percaya dan menyayangi

Semoga seperti pohon kurma ditengah gurun
Yang mampu bertahan bertahun-tahun
Lamanya, ditengah kekeringan
Dan jauh sumber air
Semoga seperti itu pula keluarga
Yang mampu saling menjaga
Dan membantu dalam kesusahan,
Juga selalu ada di suka duka bersama
Saling melengkapi dan bahu-membahu
Karena cinta yang terkuat adalah cinta keluarga
Yang mampu meluluhkan hati yang beku

Puisi : Takdir Jauh



Takdir Jauh
by : Fybie Maharani Putri

Apa lagi kali ini,
Apa yang kau lakukan saat ini?
Kau ingin mulai pergi lagi
Jauh, pergi dan menghilang
Tanpa tinggalkan kejelasan juga kabar
Sesekali ku temukan kau,
Yang bersembunyi dibalik rencanamu itu

Kau yang memiliki beribu alasan
Untuk mulai menjauh dan pergi,
Karna kau tidak berpikir jauh ke depan,
Sebelum kau mengambil pilihan

Bagaimana nanti,
Jika kita tak sengaja
Kembali berhadapan?
Akankah Yang Kuasa
Memiliki rencana-Nya sendiri
Yang kita sebut takdir?
Dan akankah waktu itu,
Yang Kuasa memisahkan kita lagi?
Atau justru memberi waktu baru
untuk kita bersama hargai
dalam ketulusan